Deprecated: Creation of dynamic property ET_Builder_Module_Comments::$et_pb_unique_comments_module_class is deprecated in /home/wetlands/public_html/wp-content/themes/Divi/includes/builder/class-et-builder-element.php on line 1425

15 Tahun Berdiri, YHC Menciptakan Ruang Inklusif Bagi Setiap Orang Untuk Berkembang.

by | Apr 23, 2025 | Headline | 0 comments

Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-15, Yayasan Hasnur Centre (YHC) mengadakan talkshow bertajuk “River of Creativity: Dialog Cahaya, Kisah Inspirasi Inklusi” di Wetland Square Banjarmasin, pada 20 April 2025. Acara ini menghadirkan berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas, orang tua, pendidik, komunitas inklusi, dan masyarakat umum.

YHC menegaskan komitmennya dalam menciptakan ruang inklusif bagi semua individu untuk berkembang. Talkshow ini menghadirkan narasumber inspiratif seperti pasangan Dr. Zulfikar Alimuddin dan Nila Susanti Sulaiman, orang tua dari anak autis berbakat musik, Muhammad Mustain, kepala sekolah inklusi GIBS, dan Darmansyah, pelatih atlet difabel.

Acara dibuka dengan penampilan dari Muhammad Rayhan Iftikar, penyandang autisma yang telah merilis lagu dan menyelesaikan kuliah di Politeknik Negeri Jakarta. Dalam sesi inti, Zulfikar dan Nila berbagi perjuangan mendampingi anak berkebutuhan khusus dan mendirikan Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) yang menyediakan terapi gratis untuk anak autisma dari keluarga pra-sejahtera.

Penampilan Rayhan Iftikar dalam acara River of Creativity, MPH – Wetland Square Banjarmasin

“Saya dan Bapak berusaha sekali melihat apa yang jadi hobinya dia (Rayhan), kekuatannya dia untuk bisa kami kembangkan. Jadi dia punya rasa percaya diri, dia punya sesuatu juga untuk bisa dibanggakan. Lantas YCHI didirikan pada tahun 2009 karena kami merasakan bagaimana beratnya dari sisi biaya terapi untuk anak autisma. Kami bersepakat mendirikan yayasan ini untuk memberikan terapi secara gratis kepada keluarga pra-sejahtera yang anaknya terdiagnosa autisma, saat ini ada di 9 kota, 9 klinik dan 2 Sekolah Luar Biasa,” tutur Nila Susanti.

“Kita harus mencari pengetahuan yang tepat untuk mengatasi masalah (anak berkebutuhan khusus), kemudian berdiskusi dengan pasangan hidup, karena ini teamwork maka saya harus terlibat. Mereka mungkin tidak punya kemampuan kognisi yang bagus, tapi jangan Anda pikir mereka tidak punya perasaan. Jadi, bangunlah komunikasi dengan perasaan, jangan putuskan harapan mereka, maka kami beri nama Yayasan Cinta Harapan Indonesia, bahwa apapun bisa dicapai kalau kita punya harapan,” timpal Zulfikar Alimuddin.

Sekolah GIBS yang mereka dirikan juga menjadi sekolah inklusi dengan pendekatan sosial dan emosional yang mendalam. Sementara itu, Darmansyah menceritakan dedikasinya dalam membina atlet difabel, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan.

“GIBS adalah sekolah boarding yang mana anak-anak 24 jam bersama kami. Setiap guru GIBS harus punya compassion atau rasa kasih sayang terhadap anak berkebutuhan, ada treatment khusus yang kita berikan. Kita punya Special Education Services di mana siswa berkebutuhan khusus tidak terpisah secara penuh. Jika secara akademik mereka perlu bantuan maka akan kita pisah di kelas tersendiri, tetapi untuk membantu proses sosial, emosional dan komunikasinya maka harus digabung, dan selama 24 jam itulah anak-anak yang berkebutuhan khusus maupun yang reguler itu latihan sosialisasi,” jelas Kepala SMP GIBS, Muhammad Mustain.

Selain itu, dalam membangun peminatan bagi anak berkebutuhan khusus, salah satunya melalui bidang olahraga yang memiliki wadah tersendiri di bawah naungan National Paralympic Committee. Sebagai pelatih atlet difabel, Darmansyah mengaku harus melalui proses yang panjang, mulai dari scouting hingga upaya mengantarkan atlet difabel untuk mengikuti kejuaraan. Namun, hal itu bisa terbayar dengan torehan prestasi dan kepuasan hati saat melihat anak-anak mencapai impian mereka meski dengan keterbatasan yang dimiliki.

“Saya berpikir bahwa usia saya semakin tua dan semakin tidak produktif, tetapi saya punya inisiatif membantu anak-anak atau teman-teman yang senasib. Saya ikut mencari (ABK), turun ke lapangan jemput bola, kendalanya luar biasa dalam menghadapi penyandang disabilitas ini. Kadang anaknya mau tetapi orang tuanya tidak mau, atau kebalikannya,” ucap Darmansyah.

Acara diakhiri dengan dialog inspiratif dari peserta, kisah perjuangan penyandang disabilitas, serta apresiasi terhadap penggunaan juru bahasa isyarat. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pertunjukan seni dari anak-anak difabel yang menggambarkan semangat inklusi dan kreativitas.

Di Wetland Square, kamu bisa menyelenggarakan acara mulai dari kelas, talkshow hingga seminar besar. Ruangan Multi Purpose Hall yang digunakan oleh Yayasan Hasnur Centre untuk berkegiatan dapat menampung hingga 500 orang. Yuk buat acara kamu di Wetland Square Banjarmasin. Hubungi kami melalui WA atau email ke crm@wetlandsquare.id

0 Comments