Di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif nasional, Kalimantan Selatan turut menunjukkan transformasi yang semakin nyata melalui berbagai program dan kegiatan kreatif. Pada tahun ini, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan Banua Creative Festival 2025 sebagai salah satu representasi dari semangat tersebut dengan mengusung tema “Titik Kumpul” setelah di tahun sebelumnya menghadirkan tema “Kebangkitan Lokal”. Pergeseran tema ini mencerminkan lahirnya rasa percaya diri baru bahwa kekuatan lokal memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan daerah. Terselenggaranya event ini bertujuan menjadi ruang pertemuan bagi seluruh energi kreatif Banua untuk saling terhubung, berkolaborasi, dan tumbuh bersama.
Melalui Banua Creative Festival 2025, Wetland Square sebagai hub kreatif yang menjadi space bertemunya antara kreativitas dan komunitas di Banjarmasin hadir dengan peran strategis sebagai kolaborator sekaligus fasilitator. Selaras dengan semangat #MulaiDariSini, Wetland Square membawa misi untuk membuka akses lebih luas bagi komunitas dan talenta lokal agar dapat terlibat dalam ekosistem kreatif Banua. Peran ini diwujudkan melalui keterlibatan Wetland Square dalam agenda Idea Forum Space For Creativity with Handoko, sebuah ruang diskusi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah pengembangan ekonomi kreatif di Banua.


Agenda diskusi tersebut dibuka oleh Bapak Iwan Fitriady selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan yang memaparkan pesatnya perkembangan ekonomi kreatif daerah khususnya pada subsektor Kuliner, Kriya, dan Fashion (KKF) yang saat ini menjadi unggulan. Beliau juga menyampaikan harapan agar 16 subsektor ekonomi kreatif lainnya dapat mengimbangi laju pertumbuhan subsektor KKF dengan dukungan pendanaan dari Dinas Pariwisata melalui anggaran keuangan daerah. Adapun sesi berikutnya diisi oleh Bapak Tsaqif A. Rifwanda selaku Deputy Director Wetland Square, beliau menyampaikan mengenai peranan Pipa Gagasan dalam Ekonomi Kreatif dan menekankan pentingnya sinergi antar-stakeholder, kolaborasi dengan kreativitas anak Banua, serta penguatan ekosistem kreatif yang sustainable. Sementara, pada sesi pemaparan penutup disampaikan oleh Bapak Handoko Hendroyono selaku Co-Founder MBloc Space sekaligus Founder Filosofi Kopi yang turut memberikan pandangannya sebagai salah satu penggerak ruang kreatif Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa agar ekonomi kreatif dapat tumbuh dan bersaing, diperlukan imajinasi yang lahir dari memori kolektif, kekayaan alam, dan budaya lokal.
“Kunci agar ekonomi kreatif bergerak adalah memahami akar budaya kita sendiri, karena di situlah letak potensi sebenarnya. Misalnya seperti puisi musikal tentang sungai, kuliner, hingga ekspresi budaya lainnya dapat dikembangkan melalui imajinasi yang berangkat dari identitas lokal.” tutur Handoko Hendroyono yang menegaskan bahwa narasi autentik berbasis kekayaan lokal memiliki peranan penting dalam membuka peluang kemakmuran baru bagi sektor kreatif di masa depan, Sabtu (6/12).
Dari Banua Creative Festival 2025, Wetland Square melalui perannya sebagai kolaborator dan fasilitator turut memperkuat ruang pertemuan bagi ide, komunitas, dan talenta lokal dalam mendorong terwujudnya Sustainable Creative Economy. Upaya ini memastikan setiap karya yang lahir dari komunitas lintas sektor memiliki nilai yang diakui, dihargai, dan berpotensi masuk ke pasar. Harapan ini menjadi komitmen bersama untuk membuka lebih banyak peluang bagi kreativitas anak muda Banua agar dapat berkembang sekaligus berdaya saing di tingkat regional maupun nasional.


0 Comments